BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Psikologi
merupakan ilmu yang mempelajari tentang jiwa yang dalam hal ini muncul dengan
berbagai macam istilah, antara lain ruh, nafs. Manusia sebagai objek psikologi
memiliki kebutuhan baik jasmani maupun rohani yang harus dipenuhi untuk
mencapai kebahagiaan dalam hidupnya.
Dalam tingkat
urgensitas kebutuhan inilah manusia tidak akan mampu terlepas dari kodrat,
yaitu kodrat bahwa manusia membutuhkan Tuhan atau dalam bahasa sederhana
manusia membutuhkan agama atau kepercayaan yang dijadikan pedoman dalam hidup
untuk mencapai kebahagiaan. Atas dasar kodrat inilah manusia akan memahami
esensi kehidupan yang sesungguhnya tentang siapa, dari mana sekaligus untuk apa
mereka diciptakan.
Agama pada
dasarnya harus ditanamkan pada manusia dengan tahapan sesuai dengan usia dan
kebutuhan masing-masing agar sesuai dengan kemampuan manusia untuk menerima
kenyataan akan hal-hal yang tidak selamanya rasional. Untuk itu, perlu
disesuaikannya dosis ajaran agama dengan pola fisik maupun psikis manusia yang
dalam hal ini menunjukkan peran penting psikologi yang menjadikannya berkaitan
erat dengan agama.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian
dari psikologi agama ?
2.
Bagaimana
tahapan perkembangan jiwa beragama ?
3.
Bagaimana agama
pada masa anak-anak ?
4.
Bagaimana tahap
perkembangan beragama pada masa anak-anak ?
5.
Bagaimana sifat
agama pada anak ?
6.
Apakah
faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan agama pada anak ?
C.
Tujuan
Penulisan
1.
Untuk
mengetahui pengertian dari psikologi agama
2.
Untuk
mengetahui tahapan perkembangan jiwa beragama
3.
Untuk
mengetahui agama pada masa anak-anak
4.
Untuk
mengetahui tahap perkembangan beragama pada masa anak-anak
5.
Untuk
mengetahui sifat agama pada anak
6.
Untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan agama pada anak
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pembahasan
Psikologi Agama
Psikologi
menurut George A.Miller adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan,dan
mengendalikan peristiwa mental dan tingkah laku. Agama menurut J.H.Leuba adalah
agama sebagai cara bertingkah laku, sebagai sistem kepercayaan atau sebagai
emosi yang bercorak khusus.
Psikologi agama
adalah cabang dari psikologi yang meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada
seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam
sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya. Dengan ungkapan lain
psikologi agama adalah ilmu yang meneliti pengaruh agama terhadap sikap dan
tingkah laku seseorang atau mekanisme yang bekerja dalam diri seseorang, karena
cara seseorang berfikir,bersikap,berkreasi dan bertingkah laku yang tidak dapat
dipisahkan dari keyakinannya,karena keyakinan itu masuk dalam konstruksi
kepribadiannya.
Psikologi agama
tidak berhak membuktikan benar tidaknya suatu agama, karena ilmu pengetahuan
tidak mempunyai teknik untuk mendemonstrasikan hal-hal yang seperti itu baik
sekarang atau masa depan, Ilmu pengetahuan tidak mampu membuktikan
ketidak-adaan Tuhan, karena tidak ada tehnik empiris untuk membuktikan adanya
gejala yang tidak empiris, tetapi sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara
empiris bukanlah berarti tidak ada jiwa. Psikologi agama sebagai ilmu
pengetahuan empiria tidak menguraikan tentang Tuhan dan sifat-sifatNya tapi
dalam psikologi agama dapat diuraikan tentang pengaruh iman terhadap tingkah
laku manusia. Psikologi dapat menguraikan iman agama kelompok atau iman
individu, dapat mempelajari lingkungan-lingkungan empiris dari gejala keagamaan
, tingkah laku keagamaan, atau pengalaman keagamaan , pengalaman keagamaan,
hukum-hukum umum tetang terjadinya keimanan, proses timbulnya kesadaran
beragama dan persoalan empiris lainnya. Ilmu jiwa agama hanyalah menghadapi
manusia dengan pendirian dan perbuatan yang disebut agama, atau lebih tepatnya
hidup keagamaan.
B.
Tahap
Perkembangan Jiwa Beragama
Dalam rentang
kehidupan terdapat beberapa tahap perkembangan. Menurut Kohnstamm, tahap
perkembangan kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode, yaitu:
1.
Umur 0 – 3
tahun, periode vital atau menyusuli.
2.
Umur 3 – 6
tahun, periode estetis atau masa mencoba dan masa bermain.
3.
Umur 6 – 12 tahun, periode intelektual (masa
sekolah)
4.
Umur 12 – 21
tahun, periode social atau masa pemuda.
5.
Umur 21 tahun
keatas, periode dewasa atau masa kematangan fisik dan psikis seseorang.
Elizabeth B.
Hurlock merumuskan tahap perkembangan manusia secara lebih lengkap sebagai
berikut:
1.
Masa Pranatal,
saat terjadinya konsepsi sampai lahir.
2.
Masa Neonatus,
saat kelahiran sampai akhir minggu kedua.
3.
Masa Bayi,
akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.
4.
Masa Kanak-
Kanak awal, umur 2 – 6 tahun.
5.
Masa Kanak-
Kanak akhir, umur 6 – 10 atau 11 tahun.
6.
Masa Pubertas
(pra adolesence), umur 11 – 13 tahun
7.
Masa Remaja
Awal, umur 13 – 17 tahun. Masa remaja akhir 17 – 21 tahun.
8.
Masa Dewasa
Awal, umur 21 – 40 tahun.
9.
Masa Setengah
Baya, umur 40 – 60 tahun.
10.
Masa Tua, umur
60 tahun keatas.
C.
Agama pada Masa
Kanak – Kanak
Sebagaimana
dijelaskan diatas, yang dimaksud dengan masa anak- anak adalah sebelum berumur
12 tahun. Jika mengikuti periodesasi yang dirumuskan Elizabeth B. Hurlock,
dalam masa ini terdiri dari tiga tahapan:
1.
0 – 2 tahun
(masa vital)
2.
2 – 6 tahun
(masa kanak- kanak)
3.
6 – 12 tahun
(masa sekolah)
Anak mengenal
Tuhan pertama kali melalui bahasa dari kata- kata orang yang ada dalam
lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Tuhan bagi anak pada
permulaan merupakan nama sesuatu yang asing dan tidak dikenalnya serta
diragukan kebaikan niatnya. Tidak adanya perhatian terhadap tuhan pada tahap
pertama ini dikarenakan ia belum mempunyai pengalaman yang akan membawanya
kesana, baik pengalaman yang menyenangkan maupun yang menyusahkan. Namun,
setelah ia menyaksikan reaksi orang- orang disekelilingnya yang disertai oleh
emosi atau perasaan tertentu yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya
terhadap kata tuhan itu tumbuh. Perasaan si anak terhadap orang tuanya
sebenarnya sangat kompleks. Ia merupakan campuran dari bermacam- macam emosi
dan dorongan yang saling bertentangan. Menjelang usia 3 tahun yaitu umur dimana
hubungan dengan ibunya tidak lagi terbatas pada kebutuhan akan bantuan fisik,
akan tetapi meningkat lagi pada hubungan emosi dimana ibu menjadi objek yang
dicintai dan butuh akan kasih sayangnya, bahkan mengandung rasa permusuhan
bercampur bangga, butuh, takut dan cinta padanya sekaligus.
Menurut Zakiah
Daradjat, sebelum usia 7 tahun perasaan anak terhadap tuhan pada dasarnya
negative. Ia berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan kemuliaan tuhan.
Sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Kepercayaan yang
terus menerus tentang Tuhan, tempat dan bentuknya bukanlah karena rasa ingin
tahunya, tapi didorong oleh perasaan takut dan ingin rasa aman, kecuali jika
orang tua anak mendidik anak supaya mengenal sifat Tuhan yang menyenangkan.
Namun pada pada masa kedua (27 tahun keatas) perasaan si anak terhadap Tuhan
berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya
dan merasa aman.
D.
Tahap
Perkembangan Agama Pada Masa Kanak – Kanak
Sejalan dengan
kecerdasannya, perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga
bagian:
1.
The Fairly Tale
Stage (Tingkat Dongeng).
Pada tahap ini anak yang berumur 3 – 6 tahun, konsep mengeanai
Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam menanggapi
agama anak masih menggunakan konsep fantastis yang diliputi oleh dongeng-
dongeng yang kurang ,masuk akal. Cerita akan Nabi akan dikhayalkan seperti yang
ada dalam dongeng- dongeng.
Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada para pemuka agama
daripada isi ajarannya dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan
masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kekanak- kanakannya. Dengan caranya
sendiri anak mengungkapkan pandangan teologisnya, pernyataan dan ungkapannya
tentang Tuhan lebih bernada individual, emosional dan spontan tapi penuh arti
teologis.
2.
The Realistic
Stage (Tingkat Kepercayaan)
Pada tingkat ini pemikiran anak tentang Tuhan sebagai bapak beralih
pada Tuhan sebagai pencipta. Hubungan dengan Tuhan yang pada awalnya terbatas
pada emosi berubah pada hubungan dengan menggunakan pikiran atau logika. Pada
tahap ini teradapat satu hal yang perlu digaris bawahi bahwa anak pada usia 7
tahun dipandang sebagai permulaan pertumbuhan logis, sehingga wajarlah bila
anak harus diberi pelajaran dan dibiasakan melakukan shalat pada usia dini dan
dipukul bila melanggarnya.
3.
The Individual
Stage (Tingkat Individu)
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, sebenarnya potensi agama sudah ada
pada setiap manusia sejak ia dilahirkan. Potensi ini berupa dorongan untuk
mengabdi kepada Sang Pencipta. Dalam terminologi islam, dorongan ini dikenal
dengan hidayat al-diniyyat, berupa benih-benih keberagamaan yang dianugerahkan
Tuhan kepada manusia. Dengan adanya potensi bawaan ini manusia pada hakikatnya
adalah makhluk beragama. Namun keberagamaan tersebut memerlukan bimbingan agar
dapat tumbuh dan berkembang secara benar. Pada tingkat ini anak telah memiliki
kepekaan emosi yang tinggi, sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep
keagamaan yang diindividualistik ini terbagi menjadi tiga golongan:
a.
Konsep
ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil
fantasi.
b.
Konsep
ketuhanan yang lebih murni, dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal
(perorangan).
c.
Konsep
ketuhanan yang bersifat humanistik, yaitu agama telah menjadi etos humanis
dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama. Berkaitan dengan masalah ini,
imam bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat
bagian, yaitu:
1)
Fase dalam
kandungan
Untuk memahami perkembangan agama pada masa ini sangatlah sulit,
apalagi yang berhubungan dengan psikis ruhani. Meski demikian perlu dicatat
bahwa perkembangan agama bermula sejak Allah meniupkan ruh pada bayi, tepatnya
ketika terjadinya perjanjian manusia atas tuhannya.
2)
Fase bayi
Pada fase kedua ini juga belum banyak diketahui perkembangan agama
pada seorang anak.Namun isyarat pengenalan ajaran agama banyak ditemukan dalam
hadis, seperti memperdengarkan adzan dan iqamah saat kelahiran anak.
3)
Fase kanak-
kanak
Masa ketiga tersebut merupakan saat yang tepat untuk menanamkan
nilai keagamaan.Pada fase ini anak sudah mulai bergaul dengan dunia luar.
Banyak hal yang ia saksikan ketika berhubungan dengan orang-orang orang
disekelilingnya. Dalam pergaulan inilah ia mengenal Tuhan melalui ucapan-
ucapan orang disekelilingnya. Ia melihat perilaku orang yang mengungkapkan rasa
kagumnya pada Tuhan. Anak pada usia kanak- kanak belum mempunyai pemahaman
dalam melaksanakan ajaran Islam, akan tetapi disinilah peran orang tua dalam
memperkenalkan dan membiasakan anak dalam melakukan tindakan- tindakan agama
sekalipun sifatnya hanya meniru.
4)
Masa anak
sekolah
Seiring dengan perkembangan aspek- aspek jiwa lainnya, perkembangan
agama juga menunjukkan perkembangan yang semakin realistis.Hal ini berkaitan
dengan perkembangan intelektualitasnya yang semakin berkembang.
E.
Sifat Agama
Pada Anak
Sifat agama
pada anak-anak tumbuh megikuti pola ideas konsep on outbrority. Ide keagamaan
pada anak hampir sepenuhnya autoritarius maksudnya, konsep keagamaan pada diri
mereka dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka. Mereka telah melihat dan
mengikuti apa yang diajarkan oleh orang dewasa dan orang tua mereka tentang
sesuatu yang berhubungan dengan agama. Ketaatan pada ajaran agama merupakan
kebiasaan yang menjadi milik mereka yang mereka pelajari dari para orang tua
maupun guru mereka. Berdasarkan hal itu maka bentuk dan sifat agama pada diri
anak dapat dibagi atas:
1.
Unreflective
(kurang mendalam/ tanpa kritik)
Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam, cukup
sekadarnya saja, dan mereka merasa puas dengan keterangan yang kadang-kadang
kurang masuk akal. Menurut peneilitian, pikiran kritis baru muncul pada anak
berusia 12 tahun, sejalan dengan perkembangan moral. Diusia ini pun anak yang
kurang cerdas pun menunjukkan pemikiran yang kreatif. Namun demikian, sebelum
usia 12 tahun pada anak yang mempunyai ketajaman berpikir akan menimbang
pemikiran yang mereka terima dari orang lain.
2.
Egosentris
Sifat egosentris ini berdasarkan hasil penelitian piaget tentang
bahasa pada anak berusia 3-7 tahun. Dalam hal ini, berbicara bagi anak-anak
tidak mempunyai arti seperti orang dewasa. Bagi anak, bahasa tidaklah
menyangkut orang lain, tetapi lebih merupakan “monolog” dan “monolog kolektif”,
yaitu merupakan bahasa egosentris, bukan sebagai sarana untuk mengomunikasikan
gagasan dan informasi, lebih-lebih merupakan pernyataan atau penegasan diri
dihadapan orang lain.
3.
Anthromorphis
Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari
pengalamannya. Dikala ia berhubungan dengan orang lain, pertanyaan anak
mengenai “bagaimana” dan “mengapa” biasanya mencermikan usaha mereka untuk
menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka
yang bersifat subjektif dan konkret.
4.
Verbalis dan
ritualis
Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh mula-mula secara
verbal (ucapan). Mereka menghafal secara verbal kalimat keagamaan, selain itu
pula dari amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman menurut
tuntunan yang diajarkan kepada mereka.
5.
Imitatif
Bahwa tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak-anak pada dasarnya
diperoleh dari meniru. Berdoa dan salat misalnya, mereka laksanakan berdasarkan
hasil melihat perbuatan dilingkungan, dalam segala hal anak merupakan peniru
yang ulung. Sifat peniru ini merupakan modal yang positif. Menurut penelitian
Gillesfi dan young bahwa anak yang tidak dapat pendidikan agama dalam keluarga
tidak akan dapat diharapkan menjadi pemilik keagamaan yang kekal.
6.
Rasa heran
Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan yang
terakhir pada anak. Maka rasa kagum pada anak ini belum bersifat kritis dan
kreatif. Mereka hanya kagum pada keindahan lahiriyah saja. Rasa kagum mereka
dapat disalurkan melalui cerita-cerita yang menimbulkan rasa takjub.
F.
Faktor – Faktor
yang Mempengaruhi Perkembangan Agama pada Anak
Perkembangan
agama pada masa anak terjadi melalui pengalaman hidupnya sejak kecil dalam
keluarga, disekolah dan dalam masyarakat. Lingkungan banyak membentuk
pengalaman yang bersifat religius, (sesuai dengan ajaran agama) karena semakin
banyak unsur agama maka sikap, tindakan dan kelakuan dan caranya menghadapi
hidup akan sesuai dengan ajarana agama.
Setiap orang
tua dan semua guru ingin membina anak agar menjadi orang yang baik, mempunyai
kepribadian yang kuat dan sikap mental yang sehat dan yang terpuji. Semua itu
dapat diusahakan melalui pendidikan, baik yang formal maupun yang non formal.
Setiap pengalaman yang dilalui anak baik melalui penglihatan, pendengaran,
maupun prilaku yang diterimanya akan ikut menentukan pembinaan pribadinya.
Masa pendidikan
di SD merupakan kesempatan pertama yang sangat baik, untuk membina pribadi anak
setelah orang tua, sekolah dasar merupakan dasar pembinaan pribadi dan mental
anak. Apabila pembinaan pribadi dan mental anak terlaksana dengan baik, maka si
anak anak memasuki masa remaja dengan mudah dan pembinaan pribadi dimasa remaja
itu tidak akan mengalami kesulitan.
Pendidikan anak
di sekolah dasarpun, merupakan dasar pula bagi pembinaan sikap dan jiwa agama
pada anak. Apabila guru agama di SD mampu membina sikap positif terhadap agama
dan berhasil dalam membentuk pribadi dan akhlak anak, maka untuk mengembangkan
sikap itu pada masa remaja muda dan sianak telah mempunyai pegangan atau bekal
dalam menghadapi berbagai goncangan yang biasa terjadi pada masa remaja.
Anak-anak akan bersifat sama sopan dan hormatnya kepada orang lain seperti kita
kepada mereka, jika dibesarkan dilingkungan rumah dimana mereka diperlakukan
dengan penuh kewibawaan, kebaikan hati dan rasa hormat, akan besar pengaruhnya
terhadap cara mereka memperlakukan orang lain. Mereka akan sampai kepada
keyakinan bahwa begitulah cara mereka harus memperlakukan orang lain. Mereka
juga cenderung memperlakukan kita dengan cara melihat kita memperlakukan orang
lain diluar keluarga.
Pendidikan
agama islam memberikan dan mensucikan jiwa serta mendidik hati nurani dan
mental anak-anak dengan kelakuan yang baik-baik dan mendorong mereka untuk
melakukan pekerjaan yang mulia. Karena pendidikan agama islam memelihara
anak-anak supaya melalui jalan yang lurus dan tidak menuruti hawa nafsu yang
menyebabkan nantinya jatuh ke lembah kehinaan dan kerusakan serta merusak
kesehatan mental anak. Adapun pendidikan agama islam yang perlu di terapkan
kepada anak sejak usia dini antara lain:
1.
Membisikkan
Kalimat Tauhid
Dalam hal ini sejak anak lahir kedunia tidak lain yang dibisikkan
atau diperdengarkan setelah keluar dari rahim ibunya kecuali “Allah” dengan
menggunakan azan di telinga kanan untuk anak laki-laki dan iqamat di telinga
kiri untuk anak perempuan, karena pendidikan agama islam membersihkan hati dan
mensucikan jiwa agar anak-anak nantinya tetap patuh perintah Allah.
2.
Mengajari
Akhlak yang Mulia
Dengan mengajari anak akhlak yang mulia atau yang terpuji bukan
hanya semata untuk mengetahuinya saja, melainkan untuk mempengaruhi jiwa sang
anak agar supaya beraklak dengan akhlak yang terpuji. Karena pendidikan agama
islam dalam rumah tangga sangat berpengaruh besar dalam rangka membentuk anak
yang berbudi pekerti yang luhur dan memiliki mental yang sehat.
3.
Mengislamkannya
atau mengkhitankannya
Disebutkan dalam Assahhain, dari hadits Abi Hurairah ra, berkata :
“Rasululullah Saw. Bersabda : “Fitrah itu ada lima (Khitan, mencukur buku di
bawah perut, mencukur kumis, memotong kuku dan mencabut buku ketiak)”. Disini
khitan ditempatkan ditempat sebagai ciri fitrahnya seseorang yang berdasarkan
pada kelemah lembutan agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim, dimana ia diperintahkan
untuk melakukannya pada waktu ia mencapai usia 80 tahun. Dengan demikian
sebagai orang tua yang mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap
anak-anaknya, agar tidak menyia-nyiakan amanah tersebut, orang tualah sebagai
pembina pertama dalam hidup dan kehidupan si anak, olehnya itu anak perlu
berbakti dan hormat serta berakhlak mulia terhadap kedua orang tuanya.
4.
Upaya
Melestarikan Kesehatan Mental Anak Melalui Pendidikan Agama Islam
Dalam upaya melestarikan kesehatan mental setiap anak / orang harus
mendapatkan pendidikan dan bimbingan dan penyuluhan kejiwaan.Dengan demikian
mereka membutuhkan sistem persekolahan yang sesuai dengan kepribadian dan
perkembangan anak.Perlunya diketahui bahwa kesahatan mental dapat dicapai
melalui kehidupan jadi rukun dan damai diantaran kelompok sosial dengan saling
memberi dukungan fisik, material maupun moral untuk mencapai ketenangan hidup
melalui agama, dapat meredam gejala jiwa, dan perlu dilakukan / dilaksanakan
secara konsisten dan produktif.
Adapun cara untuk menjaga kesehatan mental anak melalui pendidikan
agama islam antara lain :
a.
Menanamkan Rasa
Keagamaan terhadap Anak. Dengan memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang
agama, agar anak dapat mengenal lebih dekat kepada sang pemberi petunjuk yaitu
Allah Swt. Agar apabila suatu saat seorang anak mengalami atau mendapatkan
masalah dalam hidupnya tidak timbul frustasi pada anak tersebut yang dapat
menimbulkan gangguan jiwa dan kesehatan mental paa tersebut dengan pengenalan
agama lebih dekat.
b.
Membimbing dan
Mengarahkan Perkembangan Jiwa Anak Melalui Pendidikan Agama Islam. Membimbing
dan mengarahkan perkembangan jiwa anak dapat diusahakan melalui pembentukan
pribadi dengan pengalaman keagamaan terhadap diri anak baik dalam lingkungan
keluarga, lingkungan sekolah maupun masyarakat, lingkungan yang banyak
membentuk pengajaran yang bersifat agama (sesuai dengan ajaran agama islam).
Akan membentuk pribadi, tindakan dan kelakuan serta caranya menghadapi hidup
akan sesuai dengan ajaran agama yang kesemuanya itu mengacu pada perkembangan
jiwa dan pembentukan mental yang sehat dalam diri si anak.
c.
Menanamkan
Etika Yang Baik Terhadap Diri Anak Berdasarkan Norma-Norma Keagamaan.
Perkembangan agama pada anak sangat ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman
yang dilaluinya, terutama pada masa pertumbuhan yang pertama (masa anak) dari
umur 0 – 12 tahun.
Masa kanak-kanak merupakan masa yang menentukan pertumbuhan dan
perkembangan psikologi dan agama si anak. Oleh karena itu pada masa ini orang
tua harus ekstra ketat dalam mendidik anaknya misalnya kita membiasakan anak
untuk menggunakan tangan kanan dalam mengambil, memberi, makan dan minum,
menulis, menerima tamu dan mengajarkannya untuk selalu memulai pekerjaan dengan
membaca Basmalah serta harus diakhiri dengan membaca Hamdalah. Masa kanak-kanak
merupakan masa emas dengan kapasitas pendidikan yang dapat dimaksimalkan,
sehingga peran orang tua dalam menanamkan segala bentuk ajaran positif
sangatlah penting untuk pedoman hidup anak.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sejalan dengan
tingkat intelligensinya, perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi
menjadi tiga bagian:
1.
The Fairly Tale Stage (Tingkat Dongeng).
2.
The Realistic Stage (Tingkat Kepercayaan)
3.
Individual Stage (Tingkat Individu)
Sifat keagamaan
pada anak dapat dibagi menjadi enam bagian:
1.
Unreflective (kurang mendalam/ tanpa kritik).
2.
Egosentris
3.
Anthromorphis
4.
Verbalis dan Ritualis
5.
Imitatif
6.
Rasa heran
Pendidikan
agama islam yang perlu di terapkan kepada anak sejak usia dini antara lain:
1.
Membisikkan Kalimat Tauhid
2.
Mengajari Akhlak yang Mulia
3.
Mengislamkannya atau mengkhitankannya
4.
Upaya Melestarikan Kesehatan Mental Anak Melalui Pendidikan Agama
Islam
Cara untuk menjaga
kesehatan mental anak melalui pendidikan agama islam antara lain :
1.
Menanamkan Rasa Keagamaan terhadap Anak. Dengan memberikan
pengetahuan dan pemahaman tentang agama, agar anak dapat mengenal lebih dekat
kepada sang pemberi petunjuk yaitu Allah Swt
2.
Membimbing dan Mengarahkan Perkembangan Jiwa Anak Melalui
Pendidikan Agama Islam. Membimbing dan mengarahkan perkembangan jiwa anak dapat
diusahakan melalui pembentukan pribadi dengan pengalaman keagamaan terhadap
diri anak baik dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah maupun masyarakat,
lingkungan yang banyak membentuk pengajaran yang bersifat agama (sesuai dengan
ajaran agama islam).
3.
Menanamkan Etika Yang Baik Terhadap Diri Anak Berdasarkan
Norma-Norma Keagamaan. Perkembangan agama pada anak sangat ditentukan oleh
pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa pertumbuhan yang
pertama (masa anak) dari umur 0 – 12 tahun.
Masa kanak-kanak merupakan masa emas
dengan kapasitas pendidikan yang dapat dimaksimalkan, sehingga peran orang tua
dalam menanamkan segala bentuk ajaran positif sangatlah penting untuk pedoman
hidup anak. Anak dengan intelligensinya mampu menerima dengan baik segala
bentuk rangsangan dari lingkungan sekitarnya. Agama akan membentuk jiwa anak
untuk selalu taat terhadap apa yang menjadi dasar keyakinannya, anak dengan
pengetahuan agama akan hidup lebih stabil dibandingkan dengan anak tanpa
pengetahuan agama.
DAFTAR PUSTAKA
Aliah B. Purwakanta Hasan. Psikologi Perkembangan Islami.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2002
Aziz, Ahyadi. Psikologi Agama.
Bandung : Mertiana
Daradjat, Zakiyah. Ilmu Jiwa
Agama: Bulan Bintang, cet 14. 1993
Jalaludin. Psikologi Agama.
Jakarta : PT Grafindo Persada, cet. 2009
Ramayulis. Psikologi Agama:
Kalam Mulia. 2004
Sobur, Alex. Psikologi Umum.
Bandung : Pustaka Setia, cet.II. 2009
Sururin. Ilmu Jiwa Agama.
Jakarta : PT Grafindo Jaya. 2004
WE Maramis. Ilmu Kedoteran Jiwa:
Airlangga University Press. 1980
PERKEMBANGAN KEBERAGAMAAN
PADA ANAK
MAKALAH
Mata
Kuliah Psikologi Agama
Dosen Pengampuh
Faiz Tajul Millah, M.Pd
Kelompok 1 :
Milu
Nurhayati
13.01.0095
Siti
Zahrotun Nisa
11.01.0047
Dwi
Anandyah
13.01.0044
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM SANGATTA KUTAI TIMUR
2014